Alasan League of Legends PC Gagal di Indonesia

League of Legends merupakan sebuah nama game Moba terkenal di dunia bahkan memiliki pemain terbanyak di genre tersebut. Memang League of Legends populer di dunia, namun di Indonesia bagaimana?. Ternyata di Indonesia League of Legends tidak populer, tentu saja ada alasan League of Legends gagal di Indonesia.

Jumlah pemain League of Legends PC di Indonesia sendiri hanya mencapai 96.128 player atau kurang dari 100 ribu. Beberapa negara di Asia Tenggara pun pemainnya hanya sedikit misalnya Singapura dengan 202.926 pemain, sedangkan yang paling tinggi jumlahnya ada di Vietnam dengan 3.036.166 pemain. Beberapa waktu yang lalu Garena juga mengumumkan penggabungan server Indonesia ke server Singapura dan Malaysia.

Nah, pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai alasan mengapa League of Legends PC gagal di Indonesia. Penasaran kan? makanya simak saja pembahasan berikut ini ya. Langsung saja berikut ini beberapa faktor atau alasan penyebabnya.

1. Kegagalan Garena dan Kurangnya Support

Garena merupakan publisher League of Legends di Asia Tenggara. Riot Games memberikan tugas pada Garena untuk mengembangkan sayap LoL di SEA, namun usah tersebut tampaknya gagal. Garena hanya mampu menggaet Vietnam dengan jumlah pemain terbanyak di Asia Tenggara. Sementara di Indonesia sudah jadi dead game karena strategi Garena kurang bagus untuk menggaet pemain di negeri ini. Berbeda dengan Tencent selaku publisher League of Legends bisa meraup 100 juta lebih pemain dengan strategi yang bagus.

Kegagalan Garena dalam memasarkan dan mengenalkan League of Legends di SEA khususnya Indonesia membuat game ini gagal di kawasan tersebut. Padahal Garena sudah mengadakan event rutin, namun tampaknya hal tersebut tidak berhasil. Masih saja kalah dengan kepopuleran Dota.

Baca Juga: 6 Champion Paling Sakit di League of Legends: Wild Rift

2. Kalah Bersaing dari Dota

Dota 2

Penyebab mengapa League of Legends gagal di Indonesia salah satunya karena kalah bersaing dengan game Dota. Dota merupakan game Moba sama seperti League of Legends namun tahun rilisnya lebih duluan Dota yaitu pada tahun 2003. Game ini mulai populer dan mendapatkan perhatian besar di Indonesia mulai tahun 2005 dimana warnet mulai menjamur. Kemudian sesudah itu muncul lagi Dota 2 pada tahun 2011, mulai populer di Indonesia pada tahun 2013-an.

Sementara League of Legends baru masuk Indonesia pada pertengahn tahun 2013, walaupun sebenarnya sudah rilisi tahun 2009. Jarak rilis yang jauh tersebut membuat para pemain Moba di Indonesia lebih memilih Dota sebagai game mereka ketimbang League of Legends. Mereka enggan meninggalkan game yang sudah lama menemani dan sudah menyukai Dota tersebut.

Baca Juga: 5 Champion Tank Terbaik di LoL Wild Rift, Keras dan Kuat!

3. Champion Tidak Gratis

Aphelios

Alasan selanjutnya yang membuat League of Legends gagal di Indonesia adalah champion atau hero tidak gratis dan bebas pakai. Champion di League of Legends tidak gratis dan harus membeli dengan Blue Essence, mata uang dalam game untuk membeli champion tersebut. Berbeda dengan Dota yang semua heronya gratis alias bebas pakai tanpa harus membeli hero di shop.

Faktor inilah yang membuat player Indonesia malas kalau harus beli champion dulu di League of Legends dan lebih memilih Dota dengan hero gratisnya. Walaupun memang ada beberapa champion gratis setiap minggunya di League of Legends, namun tetap saja tidak bisa untuk bermain mode ranked. Kalau Dota bebas pilih hero walaupun itu di mode ranked sekalipun.

Baca Juga: 7 Tips Jitu Bermain Ranked di League of Legends: Wild Rift

4. Munculnya Game Mobile

Game Mobile

Alasan berikutnya yaitu kemunculan game mobile yang semakin populer di Indonesia. Kebanyakan penduduk Indonesia bermain game dengan smartphone mereka ketimbang dengan laptop atau PC. Hal inilah yang memicu game mobile semakin besar di Indonesia, pangsa pasarnya saja lebih menjanjikan ketimbang game PC.

Game-game seperti Mobile Legends, Free Fire, PUBG Mobile, Call of Duty Mobile, dan masih banyak lagi. Mereka menguasai pangsa pasar game Mobile di Indonesia, sementara game PC walaupun ada namun tidak sebesar game Mobile peminatnya. Namun, dengan kehadiran Wild Rift sebagai LoL-nya mobile sepertinya juga bisa ikut bersaing.

Baca Juga: Game Nomor 1 di Indonesia Apa? Berikut Inilah Jawabannya

5. Komunitas Buruk dan Toxic

alasan League of Legends gagal di Indonesia

Alasan terakhir mengapa League of Legends PC bisa gagal di Indonesia adalah komunitas yang buruk dan toxic. Komunitas LoL SEA memang penuh dengan pemain buruk dan toxi, mereka melakukan itu hanya demi kesenangan tersendiri tanpa tahu akibatnya. Ada berbagai tipe pemain buruk di komunitas LoL mulai dari toxic, feeding, griefing, rasisme, bad word, afk, troll, dan masih banyak lagi.

Pemain seperti itulah yang membuat komunitas LoL rusak dan tidak ramah. Garena sendiri juga tidak cepat tanggap dalam mengatasi permasalahan ini, akibatnya semakin banyak saja tipe pemain buruk. Para pemain baru yang bermain League of Legends pun juga biasanya menjadi sasaran pemain toxic, sehingga mereka enggan bermain lagi.

Baca Juga: 7 Champion Support Terbaik di League of Legends: Wild Rift

Nah, sepertinya sampai disini saja artikel kali ini yang membahas mengenai alasan League of Legends PC gagal di Indonesia. Semoga dengan ini Riot Games bisa memperbaiki strateginya untuk menguasai pasar game di Indonesia. Dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu maka bisa saja League of Legends populer di Indonesia. Apalagi sekarang ini muncul game League of Legends: Wild Rift, yaitu game Moba LoL yang hadir di platform Mobile, bisa saja untuk menggaet pasar mobile game di Indonesia

Sampai jumpa dan jangan lupa terus mampir di blog ini ya agar tak ketinggalan informasi unik seputar video game.

Tinggalkan komentar